Praktikum Patologi Anatomi Obstetri dan Ginekologi

•Juni 20, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

ini niiiiiiiiihhhhh….. data praktikum blok 12 by Chimu
launching perdana neehh…

moga berguna bagi nusa bangsa dan negara :P

download — klik aja thumbnail ini:

kuliah toxoplasmosis (translated)

•Juni 18, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Foto histo BLOK 12 OBSGYN

•Juni 18, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

bwt para fans yg menanti2 release album yg satu ini, gw minta maaphh tll lama cz lg sibuk pemotretan untuk majalah Aneka satwa n trubus. (juz kiddin’)

download di sini loh

Gynecological Examination Videos

•Mei 25, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

nemu link nya nih, nggak bisa diplay, tp bs didownload ^^

video 1

video 2

video 3

video 4

video 5

summary

– BREAKING BAD NEWS: Buckman’s 6-step guide-

•Mei 3, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Buckman’s 6-step guide

“S.P.I.K.E.S.”

 

S – etting, listening Skills

P – atient’s Perception

I – nvite patient to share Information

K – nowledge transmission

E - xplore Emotions and Empathize

S – ummarize & Strategize

 

1.      Setting, Listening Skills

Sebelum menyampaikan kabar buruk kepada pasien, perlu adanya persiapan untuk menjamin kelancaran penyampaian informasi kepada pasien, sebagai berikut:

-          Persiapkan diri sendiri

  • Dokter sebagai penyampai ‘bad news’ mempersiapkan mental terlebih dahulu agar tidak ikut larut dalam emosi pasien nantinya, namun tetap berempati sebagaimana mestinya.
  • Perkenalkan diri
  • Yang harus dihindari: tampak nervous di hadapan pasien, bahkan sebelum menyampaikan kabar buruk.
  • Tips: siapkan tissue di saku, untuk diberikan pada pasien bila pasien menangis

-          Privasi pasien

  • Penyampaian kabar buruk tidak boleh dilakukan di tempat yang ramai atau banyak orang
  • Hendaknya dilakukan di tempat tenang yang tertutup seperti kamar praktek ataupun dengan menutup tirai di sekeliling tempat tidur pasien

-          Libatkan pendamping

  • Untuk menghindari kesan kurang baik yang dapat muncul bila pasien dan dokter berada di tempat tertutup (untuk menjaga privasi), diperlukan satu pendamping
  • Perkenalkan pendamping kepada pasien
  • Yang dapat menjadi pendamping:
    • Keluarga terdekat pasien à satu saja, apabila terlalu banyak dapat menyulitkan dokter untuk menangani emosi dan persepsi banyak orang sekaligus
    • Perawat atau ko ass yang ikut terlibat dalam perawatan pasien

-          Posisi à duduk

  • Posisi pasien dan dokter sebaiknya setara. Dokter menyampaikan kabar buruk dalam posisi duduk
  • Tujuan: untuk menghilangkan kesan bahwa dokter berkuasa atas pasien dan memojokkan pasien
  • Sebaiknya penghalang fisik seperti meja, dihindari. Duduk di tepi tempat tidur pasien jauh lebih baik.

-          Listening mode: ON

  • Sebelum menyampaikan kabar buruk, hendaknya persiapkan kemampuan ‘mendengar’, secara prinsip meliputi:
    • Silence
      • Jangan memotong kata-kata pasien ataupun berbicara tumpang tindih dengan pasien
      • Repetition
        • Ulangi kata-kata pasien atau berikan tanggapan, untuk menunjukkan pemahaman terhadap apa yang ingin disampaikan pasien

-          Availability

  • Dokter harus ada di tempat mulai awal hingga akhir penyampaian kabar buruk
  • Jangan sampai ada gangguan berupa interupsi, seperti
    • Ada sms, telepon, atau sekedar missed call saja à matikan hp, atau aktifkan mode silent
    • Ada tamu – minta bantuan pada perawat untuk mengatasi tamu yang mungkin datang

2.      Patient’s Perception

-          Sebelum menyampaikan kabar buruk, hendaknya dokter mengetahui persepsi pasien terhadap:

  • Kondisi medis dirinya sendiri
    • Tanyakan sejauh mana informasi yang pasien ketahui tentang penyakitnya beserta kemungkinan terburuk yang ditimbulkan oleh penyakit tersebut
  • Harapannya terhadap hasil medikasi yang ia tempuh
    • Tanyakan perkiraan pasien terhadap hasil medikasi

-          Tujuan mengetahui kedua aspek tersebut bukan semata-mata untuk mengubah persepsi pasien agar sesuai dengan kenyataan, melainkan sebagai jalan untuk menilai kesenjangan antara persepsi dan harapan pasien dengan kenyataan à sebagai pertimbangan penyampaian kabar buruk agar tidak terlalu membuat pasien terguncang.

3.      Invitation to share Information

-          Tanyakan apakah pasien ingin tahu perkembangan mengenai keadaannya atau tidak. Apabila pasien menyatakan diri belum siap, pertimbangkan untuk menyampaikan di waktu lain yang lebih tepat dan minta pasien untuk mempersiapkan diri terlebih dahulu

-          Apabila pasien menyatakan ingin tahu perkembangan mengenai keadaannya, tanyakan sejauh mana ia ingin tahu, secara umum ataukah mendetail

4.      Knowledge transmission à Penyampaian ‘bad news’

-          Sebelum menyampaikan kabar buruk, lakukan ‘warning shot’ sebagai pembukaan à katakan pada pasien bahwa ada ‘kabar buruk’ yang akan disampaikan pada pasien

-          Cara penyampaian:

  • Gunakan bahasa yang sama dan hindari jargon medis.
  • Bila bahasa pasien berbeda, gunakan penerjemah yang kompeten, sebaiknya:
    • Mengerti dan dapat menggunakan bahasa yang digunakan pasien
    • Mengerti dan dapat menggunakan bahasa yang digunakan dokter
    • Dapat mengemas jargon-jargon medis ke dalam bahasa yang dimengerti pasien àsebaiknya perawat atau ko ass
    • Bukan merupakan keluarga pasien à penerjemah dari pihak pasien dapat menyebabkan peran ganda (sebagai keluarga pasien dan sebagai penyampai kabar buruk dari pihak medis)
  • Sampaikan informasi sedikit demi sedikit (bertahap)
    • Setiap menyampaikan sepenggal informasi, nilai ekspresi dan tanggapan pasien, beri waktu pasien untuk bertanya ataupun sekedar mengekspresikan emosinya.
    • Bila kondisi pasien tampak memungkinkan untuk menerima informasi tahap selanjutnya, teruskan penyampaian informasi.
    • Bila pasien tampak sangat tergunjang hingga tidak memungkinkan untuk menerima lebih banyak informasi lagi, pertimbangkan penyampaian ulang kabar buruk di lain waktu sambil mempersiapkan pasien.
  • Sampaikan dengan intonasi yang jelas namun lembut, tempo yang tidak terlalu cepat dengan jeda untuk member kesempatan pada pasien dalam mencerna kalimat yang ia terima.

5.      Explore Emotions and Empathize

-          Amati selalu ekspresi dan emosi pasien serta apa yang mendasari perubahan emosinya (informasi mana yang merubah emosinya), nilai sejauh mana kondisi emosi pasien

-          Tunjukkan pengertian atas kondisi emosi pasien. Dalam hal ini, menunjukkan pengertian tidak diartikan sebagai ‘mengerti apa yang dirasakan pasien’, namun lebih pada ‘dapat memahami bahwa apa yang dirasakan pasien saat ini adalah sesuatu yang dapat dimaklumi’.

6.      Summarize and Strategize

-          Di akhir percakapan, review kembali percakapan secara keseluruhan:

  • simpulkan ‘kabar buruk’ yang tadinya disampaikan secara bertahap (sedikit demi sedikit)
  • Simpulkan juga tanggapan yang diberikan pasien selama kabar buruk disampaikan à tunjukkan bahwa dokter mendengarkan dan mengerti apa yang disampaikan pasien
  • Berikan pasien kesempatan bertanya
  • Berikan feed back
  • Percakapan yang ada harus terdokumentasi dalam rekam medis pasien. Harus tertera dengan jelas:
    • Apa yang telah dikatakan atau disampaikan, dan kepada siapa
    • Terms used – tumor, massa, dll
    • Informasi spesifik mengenai pilihan terapi dan prognosis

-          Diskusikan rencana untuk menindaklanjuti kabar buruk yang telah disampaikan pada pasien

  • Untuk mengajak pasien ikut serta (pro aktif) dalam medikasi terhadap dirinya (both doctor and patient will play role to take next steps).

tapi….. tak semudah membaca teorinya, menyampaikan berita buruk tetep aja jadi dilema. @_@

Patologi Anatomi Wilm’s Tumor, Grawitz’s Tumor, dan Papillary Ca V.U (plus foto preparat)

•Mei 1, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

WILM’S TUMOR

• merupakan tumor ginjal pada anak usia < 10 tahun
• mengandung komponen sel dan jaringan yang berasal dari mesoderm
• dapat timbul secara sporadic maupun familial dengan kerentanan tumorigenesis diwariskan autosomal dominan
• Pemeriksaan
o teraba massa di pinggang (daerah costovertebral)
• Manifestasi klinis
o terjadi hematuria tanpa nyeri (painless haematuria)

Makroskopik:
• dapat ditemukan nekrosis pada parenkim ginjal dan pembesaran yang terjadi lebih ke satu focus bagian.

Secara mikroskopik:
 Terdapat 3 komponen sel yang membentuk trifasik klasik, yaitu:
1. sel epitel
‘Diferensiasi’ epitel biasanya mengambil bentuk:
 tubulus abortif  di antara kelompok selnya dipisah oleh stroma jaringan ikat
 glomerulus abortif
2. sel blastemal
 tampak sebagai sel-sel biru kecil yang berkumpul
 5% tumor mengandung focus anaplasia berisi sel-sel anaplastik dengan cirri:
• hiperkromatik (intinya banyak menyerap warna sehingga terlihat gelap)
• nucleus besar
• pleomorfik
• mitosis abnormal  dalam nukleusnya terlihat pecahan dari nuklelolus yang menandakan suatu mitosis yang patologis
3. sel stroma
 biasanya bersifat fibrotic atau miksoid, tidak jarang ditemukan bentukan seperti otot rangka
 terbentuk dari jaringan ikat fibrosit  sel-selnya berbentuk spindle

Keterangan gambar:
1. sel epitel
a. tubulus abortif
b. glomerulus abortif
2. sel blastemal
3. sel stroma

GRAWITZ TUMOR
(CARCINOMA RENAL)

• merupakan tumor ginjal pada orang dewasa yang sering terjadi pada usia 60-70 tahun
• lebih sering pada pria
• berasal dari epitel tubulus ginjal  terjadi terutama di bagian kortex dari ginjal
• pemeriksaan
o teraba massa di pinggang (daerah costovertebral)  unilateral ataupun bilateral
• manifestasi klinis – Trias :
1. painless haematuria  terjadi hematuria tanpa nyeri
2. demam kronis
3. nyeri tumpul pada pinggang (daerah costovertebral)  muncul bila tumor mendesak kapsula ginjal, sehingga kapsula ginjal teregang
Secara macros:
- ginjal membesar unilateral maupun bilateral, soliter
- konsistensi kenyal, berdungkul, sferis
- ukuran 3-15 cm
- batas jelas, tidak didapati kapsul, biasanya pada pole atas
- pada irisan, tampak:
o warna: putih abu-abu, kekuningan
o invasi pembuluh darah
o ada daerah kistik
o tumor dapat meluas hingga kaliks bahkan ureter

Secara mikros:
 Dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis sel yang berasal dari epitel penyusun tubulus, yaitu:
 Clear cell carcinoma
o tersering (70-80% kasus)
o sitoplasma sel terang jernih ataupun bisa granular dengan nukleusnya yang terdesak ke tepi.
 Chromophob carcinoma
o paling jarang (5% kasus), warna dari sel tumornya lebih gelap.
 Papillary carcinoma
o 10-15% kasus, terdapat pola pertumbuhan papilar.
 Pada preparat, yang ditemukan adalah clear cell (gambar 1) carcinoma dimana:
 Sitoplasma selnya jernih (clear cell) karena mengandung lemak dan glikogen
 Terdapat vakuol yang mengandung lemak dan dalam sitoplasmanya
 Nucleus terdesak oleh vakuol-vakuol lemaknya
 Di dalam nucleus terlihat nucleolus yang pecah-pecah bermitosis
 Bentukan tubulusnya terlihat lebih jelas daripada wilm’s tumor karena pada grawitz tumor ini terjadi pada dewasa yang pembentukan tubulusnya sudah sempurna
 Tampak juga stroma jaringan ikat
 Di sekitarnya juga dapat ditemukan ekstravasasi perdarahan.

PAPILLARY TRANSITIONAL CELL CARCINOMA BULI

Merupakan keganasan pada vesica urinaria yang secara klinisnya penderita mengalami hematuria tanpa nyeri (painless haematuria) dan dapat pula terjadi disuria sebagai gejala iritasi buli-buli jika carcinoma sudah menginfiltrasi jaringan dibawahnya. Normalnya epitel pada vesika urinaria adalah epitel transisional.
Makroskopik:
- Diambil dari hasil kerokan
- Dinding menebal, tampak infiltrasi tumor ke lapisan otot (m.detrusor)
- Ca buli tipe papilaris : terdapat bentukan papil yang menonjol ke dalam lumen
- Konsistensi rapuh
- Terdapat daerah nekrosis, perdarahan, maupun tampak kemerahan
- Lokasi yang sering terkena:
o Lateral wall vesica urinaria
o Trigonum vesicae

Pada carcinoma buli tipe papilaris ini secar microscopic dapat dilihat:
 Terdapat bentukan-bentukan papilar (nomor 1) pada permukaan mukosanya , terdiri atas epitel dengan sel-sel transisional anaplastik (nomor 3) yang jika dilihat:
o tiap sel epitelnya pleomorfik
o anak inti prominent
o terdapat mitosis yang atipik
 Pada bagian tengah tiap papilar terdapat bentukan garis yang merupakan stroma jaringan ikat (nomor 2)

(gambar 1)

Foto Preparat Histologi Blok 11 – Nefrourologi

•Mei 1, 2009 • 4 Komentar










skills lab semester 3

•Januari 29, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

SKILLS LAB
SEMESTER 3

hasil jarahan dari youtube neeehhhh…..

Lanjutkan membaca ’skills lab semester 3′

Foto Preparat Histologi Endokrin

•Januari 10, 2009 • 2 Komentar

especially dedicated 2 FKUNEJ 2007! eya eya eya!!! semangat, rek!

kalo ada yg salah tulung dikoreksi yaaaa

Adrenal

medula

Lanjutkan membaca ‘Foto Preparat Histologi Endokrin’

Chimu pergi ke kota: Let’s cabut, mak!

•Juli 12, 2008 • 6 Komentar

Askum semua……..

wiw… seminggu ke jkt pengen bagi2 oleh2. sebagai orang udik yang beradab aku gak bikin malu di ibu kota. takut ditimpuk sama bapak kota. paling engga aku gak lupa kalo wastafel itu bukan buat bok*r dan numpang mobil sodara duduk di jok, gak masuk bagasi lagi.

ceritanya nih, anak laki2 dari adik perempuan tiri bapak dari ibu saya (bingung ya?? waduw… saya aja bingung kok! udah…. pasrah aja, baca terus aje yeh!) jadi manten. tapi tit*tnya gak dipotong. cuman dicukur aja kali ya…

bukan manten sunat, gitu maksudnya. (duh, masa gitu aja gak nyambung sih? kan saya garing jadinya :( )

jum’at sore, aku cabut dari jember naek bis. bareng ibuk, sama ibu+adeknya si manten laki. pas di terminal masih sejam sebelum berangkat. gak tau tuh ibuku emang jaga2nya banget. takutnya sih ntar ketinggalan bus. tapi kalo nungguin sejam juga jamuran…
walhasil, jam 5 kita uda nyampe terminal. ternyata busnya udah siap, dah keluar kandang, siap cabut. walah… apakah diam2 ibuku punya bakat nujum? jangan2 buyutku mama loreng ato ki joko bodo (bagi yang bapaknya bernama bodo maapkan daku. takutnya kalo diganti susilo ntar aku ditimpuk pak esbeye). dan setelah merenung sekian lama mengapa keputusan ibuku berangkat sejam lebih awal gayung nyantol sama keberangkatan bus yang juga maju itu… aku ngambil kesimpulan.

paling2 cuma kebetulan.

kami berempat naek aja ke dalem bus yang masi belum penuh. milih tempat duduk di belakang sopir ah, dan jadilah aku duduk manis nungguin si sopir ampe bangkotan. mungkin saking lamanya nungguin sopir, tiba2 aja ibuku menatapku lurus-lurus. dengan mata berkaca2 dan hidung memerah serta bibir bergetar dia berkata: ‘bisnya kok jelek amat ya? kita turun aja yuk. tungguin bus yang berikutnyah”

‘apahhhh??? setelah bangkotan duduk nungguin sopir nahan2 bau bis yang gak enak demi menjaga barang bawaan yang berharga (baju ganti tak lupa beha dan sidi), kita turun gitu ajha? maksut loh?’

berhubung ibu lah yang berkata akhirnya ku jawab saja: ‘hah? oh.. ya ya.’ sambil ikutan nurunin barang trus jalan ke kursi tunggu sambil gak habis pikir.

ternyata, nenekku udah biasa naek bus jurusan jogja dan bilang ke ibu kalo bus itu berangkatnya jam enem. ibuku bilang, ‘bisnya enak kok kata nenek.’ ‘hah, bisnya enak? emangnya nenek makan bis? pantes gignya pada ilang’. ‘iya. nenek makan bis!’

ga bo’ong? nenek makan bis?
iya, gak bo’ong
bis apaan?

biskuit

Jah. jadinya di kursi tunggu kita mo nungguin bis-yang-katanya-jam-enem-dan-enak itu di kursi tunggu. tapi tiba-tiba otakku jadi bekerja normal, dan membuat diriku berkata dengan bijaksana seperti pak esbeye kasih pidato di istana negara: ‘buk, keknya kita tanya bagian informasi aja deh. kali aja bus yang dimaksud nenek bus yang ini nih’
‘he eh juga ya. tunggu duluk’

sambil nungguin barang bawaan takut kalo ada maling beha mengobrak abrik tas2 kita, aku dengerin ne yo pake mp4 player bulukan punyaku sambil ngeliatin sekitar. nyante aja aku ngeliatin bis yang tadi. emang bulukan tu bisnya, gak pernah dimandiin kali, kalah sama kebo tetangga sebelah. mana cat nya udah pada ngelupas kayak bisul pecah. gak lama, pak sopirnya dateng trus buka pintu bisnya. wadu kasian juga tu sopirnya gendut mau manjat ke tempat sopir malah kayak karung beras nyantol kiwir2 gitu di pintu bisnya.

pas asik2nya ngeliatin pak sopir yang bergelantungan itu, tiba-tiba aja:

‘nduk, kita naek bis yang ini!!!!

apppahhh?

keknya aku kualat sama pak sopir itu. sekarang malah aku yang keliatan kayak gorila menjarah toko beras gara2 bawa dua tas bawaan yang segede perut pak sopir itu sambil lari2. maunya aku tereakin sopirnya ‘pakkk ampunilah diriku. lepaskan kutukan ini atau kukentuti dirimu!’ tapi berhubung takut si sopir ngambek terus nangis minta balon segitiga sambil gelantungan di pintu, akhirnya aku cuman tereak: ‘tungguinnnn donggg’

akhirnya duduk di bangku nomer dua deh.

naek bus capek banget. mana ngantuk, tidur tapi gak bisa pewe. sempit banget. kalopun bisa tidur, badan kejedot kanan kiri kalo bis nya lagi belok. kayak penumpang di bangku depanku. bapak2 umuran 30 an gitu. tidur pules sambil mangap ke atas. pengen banget ambil foto, tapi apa daya baterai kamera ada di tas pakaian. mana hape lagi dipake nelpon ibuku. mangap. bener2 M-A-N-G-A-P. untungya dia ga pake gigi emas. kalo engga bisa kecopetan tu orang. copetnya bisa dapet gusi sekalian. bisa jadi inovasi baru kebanggaan indonesia di ajang miss universe: ‘putri raemawasti memakai mahkota emas bertahtakan gusi’. fenomenal!

nah, lagi asik2nya bapak itu mangap, tiba2 aja bis lewat belokan tajem. kontan aja dia oleng ke samping dan… JEDUKKK!
ya ampun, bpk itu jatoh aja gitu kejedot kursi di seberangnya. bener2 kejedot. badannya aja udah jatoh ke lantai bus. jelas aja dia bangun sambil meringis kesakitan. gebleknya, dia belum ‘ngeh’ juga apa yang terjadi. kedip2 aja gitu kayak ikan cupang minum bensin. barulah beberapa detik kemudian dia sadar bener. langsung merah tuh mukanya nahan malu, ikan cupang pun berubah jadi lohan merah habis nelen kelereng. mukanya merah, jidatnya agak benjol gitu.