Pengantar Parasitologi

based on: ‘Introduction to Parasitology’ by dr. Nurdian Yuda M,Kes

yang mau translate an by Chimu (lbh lengkapnya rangkuman diktat sih, hehe) diktat nya dr Yuda, silahkan copy paste postingan di bawah ini. atau download versi doc nya lewat ziddu. klik di sini!

maaf ya… postingannya acak2an banget… soalnya langsung kopi paste aja dari word hehee…. mayan banyak sih… 9 lembar an lah. hhuhuuuhu pdhl aslinya 61. LOL

semoga bermanfaat.

CHAPTER I: INTRODUCTION

Parasit (berdasarkan arti katanya, bhs Yunani) merupakan semua organism yang hidup menumpang pada organism lain (host/inang) untuk mendapat tempat hidup dan memenuhi kebutuhan nutriennya dengan mengambil nutrient inang.
Dengan definisi tersebut, yang dimaksud parasit (secara luas) mencakup semua agen infeksius meliputi: virus, bakteri, jamur, protozoa, dan helminthes (cacing).
Namun, praktisnya, saat ini bidang yang menelaah agen-agen infeksius terbagi atas mikrobiologi (bakteri, virus, jamur) dan parasitologi (protozoa, helminthes)

1.2 HETEROGENITAS AGEN-AGEN INFEKSIUS
Namun, agen-agen infeksius tersebut terbagi menjadi 2 subdivisi:
1. Mikroparasit
– Ukuran kecil (mikroskopik)
– Kecepatan reproduksi tinggi
– Bertendensi untuk menginduksi imunitas host untuk merespon adanya reinfeksi  cenderung transien
– Durasi infeksi pendek dibanding angka harapan hidup host
2. Makroparasit
– Ukuran macros
– Kecepatan reproduksi rendah
pada Helminthes, reproduksi langsung pada tubuh host sejati tidak berlangsung
– Cenderung persisten

Sesuai dengan perbedaan karakteristik itu, terjadi keberagaman (heterogenitas) sifat agen-agen infeksius sehubungan dengan hal-hal berikut:
1. Siklus/ sistem transmisi masing-masing parasit
yang setidaknya terduru atas 9 komponen yang melibatkan antara lain:
a. Vektor
b. Host intermediate
c. Host reservoir
d. Tahap-tahap di luar tubuh vector/ host (lingkungan luar)
2. Lokalisasi dan migrasi parasit dalam tubuh manusia
Agen-agen infeksius tersebut dapat berpindah-pindah dalam tubuh manusia (migrasi) dan menetap (terlokalisasi) pada:
a. Kulit
b. Traktus respiratorius
c. GI tract
d. Darah , dll
3. Infeksi dan disease pada manusia
Agen-agen infeksius masuk ke dalam tubuh manusia melalui bergam cara, kemudian menimbulkan penyakit dan manifestasi klinis yang beragam pula. Dalam hal ini,infeksi didefinisikan sebagai masuk dan hidupnya agen infeksius dalam tubuh inang. Sedangkan disease dikatakan muncul dengan adanya manifestasi klinis berupa tanda dan gejala akibat infeksi tersebut.
Heterogenitas pemunculan infeksi dan disease oleh masing-masing agen infeksius dipengaruhi oleh:
a. Dari segi agen infeksius/ parasit  virulensi parasit
b. Dari segi host  resistensi host

CHAPTER 2 : HUBUNGAN PARASITOLOGI DENGAN ILMU LAIN

Dalam perkembanganya, parasitologi tentunya tidak lepas dari ilmu-ilmu yang lain, terkait pada hal-hal berikut:
1. Taksonomi
Sebelum merambah ke disiplin ilmu yang lain, tentunya diperlukan adanya pengetahuan mengenai subyek parasitologi itu sendiri. Yakni dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi organisme parasit yang dipelajari dalam parasitologi menurut klasifikasi yang diterapkan pada taksonomi.
2. Disiplin Ilmu social  epidemiologi
Untuk memahami epidemiologi parasit, diperlukan pengetahuan menganai:
– Faktor social
– Iklim
– Budaya setempat
– Ekonomi global
3. Ekologi dan embriologi parasit
Dalam mengatasi masalah yang muncul oleh infeksi parasit ini, manusia berusaha untuk menyembuhkan penderita (yang terinfeksi) dan mengeliminasi agen infeksius.
Untuk dapat melaksanakan usaha tersebut diperlukan pemahaman mengenai:
1. Ekological event  pengetahuan tentang siklus hidup parasit yakni transmisi dari satu host ke host lain beserta tahapan eksternalnya
2. Embriological event  pengetahuan tentang reproduksi parasit (inget, blok nya dr kadek: Occupational Health Care Service bab kedokteran agroindustri, membasmi tahapan embrional parasit jauh lebih efektif daripada membasmi stadium dewasanya)
4. Dasar-dasar biologi kehidupan  biologi molekuler
Dasar biologi sel antara parasit dengan organisme bebas tidak berbeda, sehingga parasit dapat digunakan untuk mempelajari genetika molekuler dan ekspresi gen, serta meneliti metode diagnose penyakit infeksi dan pembasmian parasit.
Contoh: Trypanosoma, salah satu protozoa, digunakan untuk meriset genetika molekuler dan ekspresi gen
5. Ilmu lain yang menelaah agen infeksius
Disiplin ilmu lain, bukan cabang ilmu dari parasitologi
– Virology
– Bakteriologi
– Mikologi
– Nematologi tumbuhan

CHAPTER 3: PARASITOLOGI DAN KEHIDUPAN MANUSIA

Penyakit infeksi masih menjadi ‘primary killers’ atau pembunuh utama manusia. Berbagai macam isu dan permasalahan seputar infeksi parasit pada manusia yang tak kunjung usai hingga saat ini dan masih menjadi perhatian utama dunia:
1. Mayoritas infeksi serius (dpt berujung pd kematian) umumnya terjadi di negara tropis yang biasanya merupakan negara kurang maju atau negara berkembang
2. Ironisnya, perusahaan-perusahaan farmasi tidak bersedia membiayai penyediaan obat untuk ‘orang-orang yang tidak mampu membayar’ termasuk negara terbelakang dan berkembang yang biasanya mengalami problem financial
3. Negara-maju, terutama US, menganggap sebelah mata masalah penyakit infeksi ini karena memiliki nosi bahwa ‘Amerika bebas cacing gitu lohhh..’ (hehe) dalam artian, penyakit infeksius tidak lagi menjadi ‘burden disease’ (lagi-lagi inget, bok dr Kadek ttg triple burden disease). Mereka menganggap penyakit infeksius bukan masalah mereka, tapi masalah negara terbelakang-berkembang. Meski mayoritas penyakit infeksius terjadi di negara berkembang-terbelakang, namun bukan berarti negara maju bebas total dari penyakit infeksi. cacing kremi contohnya, menyerang semua kalangan sosioekonomi (orang amrik juga bisa kremien tauk! :p)
4. Kurangnya pengetahuan mengenai parasit dan penyakit infeksius menimbulkan kurangnya kesadaran akan bahaya parasit
5. Timbulnya ‘penyakit baru’ yang sebenarnya adalah ‘drug resistance’ atau kekebalan terhadap obat tertentu, umumnya antibiotika dan obat yang digunakan pada pathogen yang sudah lama dikenal.
6. Meningkatnya migrasi warga antar negara meningkatkan pula migrasi parasit (parasit dibawa oleh manusia dan menular)
7. Munculnyan disease akibat infeksi tergantung pada kondisi tubuh host (lihat lagi chapter 2) sehingga malnutrisi dapat memperparah infeksi. Malnutrisi diakserbasi oleh:
a. Kerusakan lingkungan  penurunan produksi pangan
b. Masalah financial  ga duwe duit go tuku sego, cah!
8. Terbuangnya kalori yang dihasilkan intake makanan akibat demam yang terjadi pada penyakit infeksius
9. Upaya peningkatan derajat hidup dan pembangunan negara dapat pula menimbulkan masalah. Contoh kasus:
a. Pembangunan bendungan aswan menyebarkan penyakit-penyakit infeksi melalui aliran airnya yang merata ke daerah-daerah
b. Peminjaman dana oleh bank dunia kpd brazil untuk membiayai penduduk kota yang miskin supaya bertani di pedalaman tanpa panduan dari pihak agrikultur menimbulkan masalah berupa penyebaran malaria ke dalam kota akibat terbawa oleh para petani tersebut dari pedalaman kembali ke kota karena gagal bertani.
Hal-hal tersebut merupakan dilemma yang harus dipertimbangkan dalam mengatasi masalah yang ditimbulkan parasit

CHAPTER 4: PARASiT PADA HEWAN LIAR DAN JINAK

1. Hewan liar lebih tahan terhadap infeksi parasit (infeksi tapi ga mudah disease) sehingga disebut- epizootic
2. Parasit pada hewan liar dan jinak dapat menginfeksi manusia menimbulkan penyakit
Penyakit yang muncul disebut: zoonosis
3. Contoh:
Trichinella sp hidup pada siklus sylvatic yang terdiri atas hewan liar, jinak, dan manusia
Di samping sisi merugikan, parasit pada hewan juga dapat dimanfaatkan /mendatangkan keuntungan, yakni sebagai pengendali populasi spesies tertentu. Parasit, sebagaimana predator dan kompetisi antar spesies, memegang peranan dalam membatasi jumlah individu dalam populasi spesies tertentu.

CHAPTER 5: APA ITU HEWAN PARASIT?
Parasitologi yang dipelajari kali ini membahas tentang: hewan yang bersifat parasit.
Secara awam, hewan parasit identik dengan hewan pembawa penyakit yang menjijikkan seperti lalat, dsb. Sedangkan secara biologi, definisi parasit yang dapat bukan berdasarkan bahaya yang ditimbulkan bagi host, namun lebih kepada hal yang lebih mendasar yaitu: cara hidup untuk memenuhi kebutuhannya akan makanan. Cara hidup organism parasit ini disebut parasitisme. Berdasarkan cara hidup tersebut, parasitisme harus dibedakan dengan yang lain:
1. Parasitisme vs Komensalisme
a. Parasitisme
i. Hewan parasit memenuhi kebutuhan nutriennya dengan cara mengambil dari host
ii. Terjadi hubungan organic antara jaringan hewan parasit dengan host (untuk transport makanan)
iii. Prinsip hubungan:
1. Infeksi hewan parasit membahayakan host dengan menimbulkan kerusakan jaringan
2. Host melawan hewan parasit dengan membangun resistensi
Besarnya kedua aspek tersebut menentukan tingkat toleransi antara hewan parasit dengan inang, dengan arti:
• Infeksi > resistensi, host kalah
• Infeksi < resistensi, hewan parasit kalah
b. Komensalisme
i. Hewan komensal dapat memenuhi kebutuhan nutrient tanpa mengambil dari host
ii. Tidak ada hubungan organic antara jaringan hewan parasit dengan host (untuk transport makanan)
iii. Prinsip hubungan
1. Hewan komensal tidak menimbukan kerusakan jaringan dan tidak mengambil nutrient host
2. Tidak ada bahaya pada host
Baik pada parasitisme dan komensalisme, yang sama antara hewan parasit dan hewan komensal adalah : “keduanya tidak dapat hidup tanpa host.”
2. Parasitisme vs Predator
a. Parasitisme : kebalikannya
b. Predator
i. Merusak tubuh mangsa & memakan jaringan tubuh mangsa
ii. Ukuran tubuh lebih besar dan lebih kuat dari mangsa
iii. Tidak menggunakan mangsa sebagai tempat hidup
Penggolongan parasit:
1. Berdasar letak
a. Endoparasit (internal parasite)
Hidup di permukaan tubuh host
b. Eksoparasit
Hidup di dalam tubuh (saluran maupun organ) host
2. Berdasar rentang waktu infeksi
a. Temporary parasite
Parasit yang tinggal pada tubuh host hanya pada saat butuh mengambil nutrient.
Sebenarnya non-parasit, tapi karena memiliki ketergantungan mutlak pada host untuk memenuhi makanan, maka digolongkan parasit. Contoh: nyamuk
b. Permanent parasite
Menghabiskan hampir seluruh waktu hidup di dalam tubuh host
3. Berdasar cara hidup
a. Facultative
Dapat hidup baik secara parasit maupun non parasit
b. Obligatory
Mutlak parasit
4. Jenis parasit lain
a. Hiperparasit
Parasit pada parasit lain
b. Wandering / aberrant parasite
Parasit yang berkelana (‘wandering’) ke jaringan lain yang tidak sesuai. Parasit masuk ke tubuh host yang sesuai namun ‘nyasar’ ke jaringan lain dan mati karena jaringannya tidak sesuai.
c. Occasional / accidental parasite
Parasit yang dapat menyerang organism yang tidak biasa digunakan sebagai host nya (‘unusual host’). Contoh: fasciola hepatica yang biasa parasit pada domba dapat menginfeksi dan bersifat parasit pada manusia.
d. Pseudoparasite
Parasit yang menginfeksi host melalui stadium yang sebenarnya tidak berbahaya.
Dari perbandingan-perbandingan itu, jelas bahwa:
‘parasit adalah makhluk hidup yang membangun hubungan fisiologik antar jaringan di permukaan maupun di dalam tubuh individu spesies lain dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan nutrient parasit.’

JENIS-JENIS HEWAN PARASIT

Phylum hewan parasit:
1. Protozoa  uniselular
2. Annelida  cacing gelang
3. Nemathelminthes
4. Platyhelmynthes
5. Arthropoda

CHAPTER 7 DAUR HIDUP
1. Direct Life History
1 daur hidup  1 host, transmisi berlangsung dari 1 individu host ke individu lain
2. Indirect Life History
1 daur hidup  2 atau lebih host, dengan klasifikasi:
a. Intermediate host (larval host)
i. Host dimana larva tumbuh
b. Definitive host (final host)
i. Host dimana telur diproduksi oleh hewan dewasa
Selain itu, terdapat pula:
a. Transport host
Host yang hanya digunakan sebagai pembawa atau ‘kendaraan’ menuju host yang lain. Yang perlu ditekankan: larva berada dalam tubuh transport host dalam keadaan tidak mengalami pertumbuhan atau perkembangan
b. Alternative host
Satu jenis hewan parasit dapat hidup dan berkembang biak pada beberapa spesies (memiliki beberapa spesies host final)
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa, suatu jenis parasit dapat hidup pada:
1. Normal, usual, or principal host
Host yang biasa (normal) dipakai sbg tempat hidup, dan hewan parasit mampu mengambil nutrient secara efektif
2. Abnormal, unusual, or occasional host
Host yang tidak biasa dipakai sbg tempat hidup, dan hewan parasit mengambil nutrient tidak seefektif pd host normal
Untuk dapat mengurangi transmisi parasit, perlu diketahui spesifitas tiap-tiap jenis parasit (hewan a spesifik pada host b, dll) dan juga host reservoir nya (host yang hanya digunakan sebagai reservoir infeksi).

To be continued…

chapter terakhir nyusul… OK?

(ndung,chapter mburi dewe langsung tak jelasne ae yo… isine meh pudu karo chapter duwure, gur bedo phoresis e tok)

~ oleh dyahchimu pada Mei 29, 2008.

10 Tanggapan to “Pengantar Parasitologi”

  1. kurang detail~ hihihi… but it helps me a lot~ thanks!!!!!

  2. @ ra2s hmm berarti dirimu yg mendetailkannya? deal?

  3. dok makasih ya……… aq minta junal tentang pemberian obat bs ngak

  4. dok makasih…… bs minta jurnal tentang pemberian obat ngak

  5. @alva

    wah wah.. dpgl dok.. doakan saja saya ntar kesampean jd dokter ya.. lahir batin :D

    jurnal ttg pemberian obat?

  6. good blog,,,,tingkatin n kembangin truz ye isinya….terutama di bidang kedokteran…hehe..

  7. thanks bu dokter chimu..:)

  8. wah isina krg lengkap mbk yu..
    eh..pi makasih dah nambah ilmu pengetahuan ku ..
    ciibh..

  9. good job

  10. makasihhhhhhhhhhhhhh banyaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkk

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: