Heboh ML (Mau Lagi…?): Trailernya Saja Disunat, Gimana Filmnya?

“ML”

Agaknya, trik Indika entertainment menggunakan konotasi negatif ML untuk menghebohkan pasar cukup berhasil, mengingat sensor pada trailernya dan penundaan penayangannya di bioskop hingga 1 bulan ke depan.

Gak bisa dipungkiri lagi, dua huruf itu identik dengan seks. Ya, namanya juga singkatan dari ‘Making Love’. ML, baik sekedar singkatannya saja maupun ‘making love’ itu sendiri dimanfaatkan sebagai magnet dalam film ini. Nggak Cuma judul, kontennya utamanya pun mengangkat fenomena free sex. Memang, judul film yang diproduseri oleh Shanker ini bukan making love melainkan ‘Mau Lagi? ‘ tapi tetap saja isinya seputar making love.

Simak saja synopsis berikut ini:

Wisnu, mahasiswa tampan sinematografi namun belum pernah pacaran, sedang menyelesaikan tugas akhir berupa film dokumenter tent ang pergaulan bebas di kalangan mahasiswa.
Tinggal serumah dengan Mario dan Askar yang penuh dengan kisah asmara yang bebas, menjadi bahan film dokumenter Wisnu. Lama-kelamaan Wisnu jengah dengan kehidupan sex bebas teman-temannya. Sementara Mario sangat khawatir dengan Wisnu y ang dingin dengan wanita. Akhirnya, Mario dan Wisnu taruhan membuktikan kalau Wisnu tidak frigid. Dalam waktu satu bulan, Wisnu harus dapat pacar dan ML. Wisnu menerima tantangan itu dengan syarat Mario tidak ML deng an pacarnya Manda selama satu bulan
Banyak peristiwa tak terd uga terjadi, termasuk kehamilan Manda. Benarkah Wisnu frigid? Akankah Mario mempertanggungjawabkan perbuatannya? Bagaimana pula kisah cinta Askar? Penuhi rasa penasaran dari kisah di atas dalam ML (Mau Lagi…?)

Mau tau lebih banyak? Kunjungi: www.mlthemovie.com

Penasaran kayak gimana trailernya? kunjungi blog sebelah yang menayangkan trailernya dari youtube.

Ya, tampakya film ini memang benar-benar bermaksud membuat penasaran. Judul yang cukup bombastis untuk sekedar membuat orang mengangkat alis dan penasaran didukung dengan trailer yang belum-belum sudah berani menghadirkan adegan-adegan ala ML. Trailernya aja kena sensor! kayak blue film tapi pake baju sih, katanya.. :p. Saya sendiri sih ga penasaran pengen nonton film  ini. Paling-paling bombastis luarnya doing, kaya film-film sejenis.

Film Indonesia belakangan ini? kalo ga hantu ya seks…

Terlepas dari film-film berbobot yang setidaknya menghadirkan kebanggaan tersendiri bagi bangsa, film-film Indonesia sekarang malah hantu2an ato paha2an. Ironisnya, menyedihkan sekali, justru film-film kayak gitu dibuat oleh dan untuk anak-anak muda. Lihat saja, ML ini disutradarai oleh Thomas Nawilis, bintang muda Indonesia, dan dibintangi oleh Ratu Felisha, Nadia Ernesta, Hardi Fadhillah, Vj Marissa, Olga Syaputra, Ferry Irawan, Gusti Randa, Five V.
ML termasuk film yang jual paha, meski kayaknya bakalan lebih horror dari kuntilanak 3. LOL. Cuman tembang nya diganti: “Lingsir wengi sliramu… nang jero kemul karo aku…” (tp kemulan (selimutan) pa ga juga mana tau. :p). Memang, film ini ‘american pie’ banget. Liat aja covernya. Mirip banget. Judulnya apa lagi: indonesian pie bukan american pie. Serupa tapi tak sama. Isinya juga kayak begitu, hmm menyamakan diri sama orang ‘barat’ maunya?

Konten: parno ato biasa aja, sih?

Menurut Titie Said (ketua LSF) sebagaimana dilansir detikhot.com pada 12/05/08, adegan yang disebutnya terlalu erat, buka-bukaan. Nggak heran, LSF memotong banyak sekali adegan dalam film itu hingga mencapai 15 menit, bahkan trailernya pun kena sensor. Memang, Tomas Nawilis berkilah kalau trailer yang beredar di internet berbeda dengan trailer TV. Tapi kan yang di internet itu juga bagian dari film ML toh?? Sama ja lagi!
Untuk sekedar intip-intip dari jauh, mari kita simak penuturan salah satu pemainnya, Olga syahputra, yang katanya terpaksa ciuman bibir sama cowok dalam film itu:

“Aku jilatin kakinya sampai perut. Aku ketawa-ketawa mulu, nggak kuat,” tuturnya seraya tertawa. (detikhot , 5/5/08)

Memang sih, kalo ga liat langsung ya nggak tau seperti apa sih film nya sampai-sampai trailernya aja disensor. Tapi, soal parno apa ngga, tentu saja jawaban yang muncul bakalan bervariasi:

“ML itu akronim. Kata yang kita satukan dari Mau Lagi. Mau lagi-nya juga bukan porno kok. Mau lagi kena penyakit, apa mau lagi hubungan bebas,” Ferry Irawan, Detikhot, 12/05/08
(kalo saya pribadi, si Ferry nih maksa banget bela dirinya… Gag bangetsss:P)

Lain lagi dengan komentar MUI yang menilai:
“ film yang mulai diputar pada 15 Mei mendatang ini sarat pornografi dan pornoaksi, termasuk judulnya.” Liputan6. 13/05/08

Pendapat ini rupanya diamini oleh ratusan mahasiswa yang berdemo di depan kantor LSF di Jakarta, Bogor, dan Bandung. Paling tidak, hal ini sedikit melegakan, pasalnya, pasar film ini tentu saja kalangan muda seperti mahasiswa. Hmm.. tapi jangan-jangan ikut-ikutan demo tapi tau-tau malah ngikut nonton ML?! alasannya, penasaran aja… wakkk…

Hmm.. sepertinya, masalah parno apa ngga, jawabannya tentu tergantung parameter tiap-tiap orang yang jawab , sih. Kalo buat penyimak bokep sejati kayaknya film ini ga ada apa-apanya, ringan kayak rempeyek. Kalo buat saya dari cerita olga di atas saja saya sudah jengah. Olga yang bukan pemeran utama aja udah cium bibir+jilat2, apa lagi pemeran utamanya… weksss

Bombastis Tapi Jalan Cerita Nggak Logis?

Hmm… judul boleh bombastis, sensor boleh fantastis . Tunggu dulu, ceritanya logis apa nggak? Jangan-jangan terlalu maksa banget… kalo soal itu, bisa kita lihat aja sinopsisnya. Film yang sejenis –walopun ga parah2 amat, dan juga nggak kontroversial-, XL, menurut saya, dari segi cerita gak mutu banget. Sama aja kayak ML ini, isinya taruhan. Dan yang bikin alis terangkat, endingnya terlalu maksa banget. Sepertinya, fil ML ini gak bakalan beda jauh sama film-film sejenis yang udah lama beredar.
Bisa kita lihat, film-film jenis ini agaknya hanya menjual erotica saja. Jalan ceritanya? Maksa banget, yang penting konten berbau seks nya sudah masuk.
Jadi inget film Buruan Cium Gue, heboh sensornya doang, tapi prestasi?
Yang ada cuman mancing rasa penasaran. Judul nya aja ML, disensor pula. Kontroversi kan? Dilarang? Tambah popular dong… namanya juga orang Indonesia, tambah dilarang, tambah penasaran…

Pesan moral? Emang ada?

Sebuah film tentu aja akan sangat berarti bila membawa sebuah pesan moral bagi penontonnya, nggak Cuma duit buat produsennya. Namanya juga controversial, pasi pendapat yang muncul bakalan beda-beda. Pihak MUI dan LFS menganggap film ini tidak membawa pesan moral, bahkan membawa bahaya pornografi dan pornoaksi saja.
Menanggapi hal itu, sang sutradara, Thomas Nawilis, berdalih: film ini justru memberikan peringatan pada masyarakat tentang bahaya seks bebas. Thomas ingin memberitahu pada remaja agar lebih hati-hati dalam menjalani kehidupan.
Oke lah, kalo ada yang bilang masalah pesan moral tergantung individu, tapi, kalo cari pesan moral ngapai harus liat yang salah-salah? Akibatnya kalo begini lah begitu lah, kenapa nggak sebaliknya, disampaikan dengan cara: ‘yang bener itu begini lho…”
Sama saja dengan begini:

“Dek, nih, abang boker di meja makan, adek ga boleh ya… “
Dijamin si adek nggak bakal niruin??

Bukankah lebih baik begini:
“Dek, kalo boker di kamar mandi ya, jangan lupa cebok terus disiram. Jangan lupa cuci tangan pake sabun!”

Saya merasa, kalo kita omongin masalah yang controversial macam begini, pasti ada suara-suara yang bilang: halah.. Cuma gitu aja kok, biasa aja, kamu nya aja yang berlebihan nanggapinnya… What?! Free sex gt lho, biasa aja? *shock*. Naudzubillahi mid dzalik…

Simak saja penuturan Thomas Nawilis. Detikhot, 14/05/08:

“Gue membuat realita yang ada,”

Apakah di kehidupan anda ini juga realita?

~ oleh dyahchimu pada Mei 15, 2008.

5 Tanggapan to “Heboh ML (Mau Lagi…?): Trailernya Saja Disunat, Gimana Filmnya?”

  1. eheuheueheu
    ML lagi ML lagi
    Maksiat Lagi!

  2. ML = MeLet/Masih Laper/Minum Luntas/Makan Lagi/Musim Lulian(durian)…maqzaaa;)

  3. pandanganku tentang teater dan film … baca ya .. trims sebelumnya
    http://nemu.wordpress.com/2008/05/04/khayalan-1-blogger-tentang-teater-indie/

  4. sedikit koreksi, istilah untuk pria yang punya masalah seksual bukan frigid (ini buat cewe, tapi impoten. Penggunaan kata impoten dalam konteks ini juga kurang tepat jika yang dimaksud adalah dingin terhadap perempuan.

    Salam Merdeka

  5. ketik :
    IC [spasi] GABRIEL
    kirim ke 6288

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: